Aksiologi
1. Pengertian Aksiologi
Secara etimologis, aksiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu axios yang berarti layak atau pantas dan logos yang berarti ilmu atau studi mengenai. Sedangkan makna terminologis dari aksiologi adalah:
Aksiologi merupakan analisis nilai-nilai. Maksud dari analisis ini ialah membatasi arti, ciri-ciri, asal, tipe, kriteria, dan status epistemologi dari nilai-nilai.
Menyangkut teori umum tentang nilai atau suatu studi yang menyangkut segala yang bernilai.
Studi filosofi tentang hakikat-hakikat nilai.
Sampai di sini, muncul pertanyaan apakah nilai itu sebenarnya? Secara bahasa nilai berasal dari Bahasa Latin valere yang berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, atau kuat. Dari sini nilai dapat berarti harkat yakni kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek kepentingan. Namun, nilai juga bisa bermakna keistimewaan yakni apa yang dihargai, dinilai tinggi, atau dihargai sebagai suatu kebaikan. Sedangkan menurut K. Bertens nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya sesuatu yang baik.
2. Teori-Teori tentang Nilai
Secara umum, dalam wacana aksiologi terdapat tiga macam teori mengenai nilai. Pertama, teori objektivitas nilai. Teori ini menyatakan bahwa nilai-nilai seperti kebaikan, kebenaran, keindahan, ada dalam dunia nyata adalah objektif. Kedua, teori subjektivitas nilai yakni pandangan bahwa nilai-nilai seperti kebaikan, kebenaran, keindahan, tidak ada dalam dunia real objektif tetapi merupakan perasaan, sikap pribadi, dan penafsiran atas kenyataan. Ketiga, teori relativisme nilai yaitu pandangan bahwa setiap individu (subjek) menentukan nilai-nilainya sendiri.
3. Relevansi antara Aksiologi dan Manajemen
Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-nilai tersebut ditanamkan dan harus ada dalam proses manajemen khususnya manajemen pendidikan.
Kamis, 11 Oktober 2018
ASPEK ONTOLOGI DALAM FILSAFAT ILMU
Ontologi
1. Pengertian Ontologi
Secara etimologis, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu ontos dan logos. Ontos yang berarti ada atau keberadaan sedangkan logos yang berarti studi (ilmu tentang). Menurut pengertian tersebut dapat diartikan secara sederhana bahwa ontologi adalah ilmu atau studi tentang keberadaan.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ontologi merupakan cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup. Dengan kata lain, ontologi menanyakan, mengamati, dan menganalisis keberadaan, eksistensi, dan bahkan hakikat yang ‘ada’. Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inhern dengan pengetahuan itu, dan tidak terlepas dari pandangan tentang apa dan bagaimana yang ada itu.
Menurut Sidi Gazalba, ontologi sebenarnya adalah sebuah studi yang mempelajari hakikat keberadaan sesuatu, dari yang berbentuk konkret sampai yang berbentuk abstrak, tentang sesuatu yang tampak sampai yang tidak tampak. Mengenai eksistensi dunia nyata maupun eksistensi gaib.
2. Aliran Ontologi
Beberapa aliran ontologi yang terkenal dan berupaya menjelaskan hakikat realitas antara lain: monisme, dualisme, pluralisme, materialisme, idealisme, nihilisme, agnotisisme dan mistisisme.
Monisme:
Istilah monisme berasal dari Bahasa Yunani yaitu monos yang berarti tunggal atau sendiri. Ada beberapa pengertian mengenai monisme menurut Lorens yaitu: 1) Teori yang mengatakan bahwa segala hal dalam alam semesta dapat dijabarkan dan dijelaskan dalam kerangka kegiatan satu unsur dasar. Misalnya, Allah. 2) Teori yang menyatakan bahwa segala hal berasal dari satu sumber terakhir tunggal. 3) keyakinan, bahwa realitas adalah satu, dan segala sesuatu lainnya adalah ilusi. 4) Ajaran yang mempertahankan bahwa ajaran pokok seluruh eksistensi adalah satu sumber.
Dualisme:
Istilah dualisme berasal dari Bahasa Yunani, dualis yang berarti bersifat dua. Berbeda dengan monisme yang berpandangan bahwa hanya ada satu substansi, maka dualisme justru berpandangan bahwa ada dua substansi dalam kehidupan ini. Dalam pembahasan filsuf Rene Descartes wacana konsep dualisme dianggap sempurna. Di mana dualisme berhubungan dengan manusia, Rene Descartes memandang manusia sebagai makhluk yang berasal dari dua substansi yaitu jiwa sebagai alat berpikir dan tubuh jasmaniah yang bersifat fisikal. Kedua substansi tersebut saling terpisah satu sama lain. Dalam pemikiran inilah, dualisme menurut Rene Descartes merupakan dua substansi yang terpisah. Namun, Rene Descartes percaya bahwa selain dua substansi tersebut terdapat satu lagi substansi yang bersifat absolut yaitu Tuhan.
Pluralisme:
Istilah pluralisme berasal dari Bahasa Latin pluralis yang berarti jamak atau plural. Ketika berbicara tentang alam semesta, Empedokles menyatakan bahwa alam jagat raya yang kita saksikan ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api, dan air. Sedangkan Anaxagoras ingin membawa teori tersebut lebih jauh. Setelah melakukan kajian secara seksama Anaxagoras menyimpulkan bahwa tidak akan empat unsur tersebut yang membentuk alam semesta. Bagi Anaxagoras terdapat jutaan unsur bahkan substansi yang tak terhitung jumlahnya.
Materialisme:
Aliran ini memandang bahwa yang ‘ada’ sesungguhnya adalah bersifat material (kebendaan) atau realitas yang dapat dijelaskan secara materialistis.
Idealisme:
Istilah idealisme berasal dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Secara sederhana, idealisme menyatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, atau mind dan bukan benda material. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih dulu daripada materi.
Nihilisme:
Istilah nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang secara harfiah berarti tidak ada atau ketiadaan. Secara umum nihilisme berarti pandangan bahwa keberadaan dan hidup di dunia sama sekali tidak berarti dan tidak bermanfaat.
Agnotisisme:
Istilah agnotisisme berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu a yang berarti ‘bukan’, ‘tidak’, dan gnostikos yang berarti ‘orang yang mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang’. Dari pengertian tersebut bisa diambil pengertian bahwa agnotisisme dibagi dalam dua wacana, yaitu: pertama, paham yang berhubungan dengan wacana ketuhanan. Aliran ini mengklaim bahwa manusia tidak pernah mampu untuk mengetahui eksistensi Tuhan. Kedua, manusia tidak mungkin mampu mengetahui sesuatu yang berada di balik realitas.
Eksistensi Tuhan (Mistisisme):
Salah satu realitas fundamental yang diperbincangkan dalam mistisisme adalah eksistensi Tuhan yang merupakan realitas tertinggi dan menjadi sumber bagi eksistensi segala sesuatu.
3. Relevansi antara Ontologi dan Manajemen
Peter Drucker, seorang ahli bisnis dan profesor terkemuka di bidang manajemen berpendapat bahwa praktek dan ilmu manajemen memiliki dimensi filosofis yang sangat mendalam. Menurutnya, manajemen tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Karena tanpa filsafat manajemen tidak memiliki pondasi yang kuat. Di sisi lain tanpa manajemen filsafat hanya akan menjadi sebatas pengetahuan dan insight yang belum diterapkan dalam praktek.
Telaah ontologi akan membahas mengenai objek ilmu. Di mana menurut Jujun Suriasumantri syarat sebuah ilmu ada objek yaitu objek materil dan objek formal. Peran manajemen dimaksudkan untuk menggambarkan peran yang harus dilakukan oleh seorang manajer atau pemimpin dalam mengelola dan menggerakkan organisasi.
Berdasarkan deskripsi tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa objek materil manajemen adalah beberapa orang (pemimpin atau manajer) dan segala hal yang digerakkan oleh manajer. Sedangkan untuk objek formalnya adalah seluruh bentuk penagarahan, pengelolaan, dan pergerakan aktivitas dalam organisasi yang dilakukan (planning, organizing, actuating, controlling).
ALMA SAFITRI (20188500017)
1A-POR
1. Pengertian Ontologi
Secara etimologis, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu ontos dan logos. Ontos yang berarti ada atau keberadaan sedangkan logos yang berarti studi (ilmu tentang). Menurut pengertian tersebut dapat diartikan secara sederhana bahwa ontologi adalah ilmu atau studi tentang keberadaan.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ontologi merupakan cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup. Dengan kata lain, ontologi menanyakan, mengamati, dan menganalisis keberadaan, eksistensi, dan bahkan hakikat yang ‘ada’. Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inhern dengan pengetahuan itu, dan tidak terlepas dari pandangan tentang apa dan bagaimana yang ada itu.
Menurut Sidi Gazalba, ontologi sebenarnya adalah sebuah studi yang mempelajari hakikat keberadaan sesuatu, dari yang berbentuk konkret sampai yang berbentuk abstrak, tentang sesuatu yang tampak sampai yang tidak tampak. Mengenai eksistensi dunia nyata maupun eksistensi gaib.
Beberapa aliran ontologi yang terkenal dan berupaya menjelaskan hakikat realitas antara lain: monisme, dualisme, pluralisme, materialisme, idealisme, nihilisme, agnotisisme dan mistisisme.
Istilah monisme berasal dari Bahasa Yunani yaitu monos yang berarti tunggal atau sendiri. Ada beberapa pengertian mengenai monisme menurut Lorens yaitu: 1) Teori yang mengatakan bahwa segala hal dalam alam semesta dapat dijabarkan dan dijelaskan dalam kerangka kegiatan satu unsur dasar. Misalnya, Allah. 2) Teori yang menyatakan bahwa segala hal berasal dari satu sumber terakhir tunggal. 3) keyakinan, bahwa realitas adalah satu, dan segala sesuatu lainnya adalah ilusi. 4) Ajaran yang mempertahankan bahwa ajaran pokok seluruh eksistensi adalah satu sumber.
Pluralisme:
Istilah pluralisme berasal dari Bahasa Latin pluralis yang berarti jamak atau plural. Ketika berbicara tentang alam semesta, Empedokles menyatakan bahwa alam jagat raya yang kita saksikan ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api, dan air. Sedangkan Anaxagoras ingin membawa teori tersebut lebih jauh. Setelah melakukan kajian secara seksama Anaxagoras menyimpulkan bahwa tidak akan empat unsur tersebut yang membentuk alam semesta. Bagi Anaxagoras terdapat jutaan unsur bahkan substansi yang tak terhitung jumlahnya.
Aliran ini memandang bahwa yang ‘ada’ sesungguhnya adalah bersifat material (kebendaan) atau realitas yang dapat dijelaskan secara materialistis.
Istilah idealisme berasal dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Secara sederhana, idealisme menyatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, atau mind dan bukan benda material. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih dulu daripada materi.
Istilah nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang secara harfiah berarti tidak ada atau ketiadaan. Secara umum nihilisme berarti pandangan bahwa keberadaan dan hidup di dunia sama sekali tidak berarti dan tidak bermanfaat.
Istilah agnotisisme berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu a yang berarti ‘bukan’, ‘tidak’, dan gnostikos yang berarti ‘orang yang mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang’. Dari pengertian tersebut bisa diambil pengertian bahwa agnotisisme dibagi dalam dua wacana, yaitu: pertama, paham yang berhubungan dengan wacana ketuhanan. Aliran ini mengklaim bahwa manusia tidak pernah mampu untuk mengetahui eksistensi Tuhan. Kedua, manusia tidak mungkin mampu mengetahui sesuatu yang berada di balik realitas.
Salah satu realitas fundamental yang diperbincangkan dalam mistisisme adalah eksistensi Tuhan yang merupakan realitas tertinggi dan menjadi sumber bagi eksistensi segala sesuatu.
Peter Drucker, seorang ahli bisnis dan profesor terkemuka di bidang manajemen berpendapat bahwa praktek dan ilmu manajemen memiliki dimensi filosofis yang sangat mendalam. Menurutnya, manajemen tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Karena tanpa filsafat manajemen tidak memiliki pondasi yang kuat. Di sisi lain tanpa manajemen filsafat hanya akan menjadi sebatas pengetahuan dan insight yang belum diterapkan dalam praktek.
Telaah ontologi akan membahas mengenai objek ilmu. Di mana menurut Jujun Suriasumantri syarat sebuah ilmu ada objek yaitu objek materil dan objek formal. Peran manajemen dimaksudkan untuk menggambarkan peran yang harus dilakukan oleh seorang manajer atau pemimpin dalam mengelola dan menggerakkan organisasi.
Berdasarkan deskripsi tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa objek materil manajemen adalah beberapa orang (pemimpin atau manajer) dan segala hal yang digerakkan oleh manajer. Sedangkan untuk objek formalnya adalah seluruh bentuk penagarahan, pengelolaan, dan pergerakan aktivitas dalam organisasi yang dilakukan (planning, organizing, actuating, controlling).
ASPEK EPISTIMOLOGI DALAM FILSAFAT ILMU
Kajian EPISTIMOLOGI, Definisi, Teori Dan Sejarah
Epistimologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan- pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan, menurut epistemology, setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga ahirnya diketahui manusia, epistemology membahas sumber, proses, syarat, batas pasilitas hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jamisnan bagi bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid- muridnya. Pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap ubstansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu.
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dan kata Yunani episterne berarti pengetahuan, dan logos berarti teori.
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atausumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan- persoalan dalam epistemologi adalah:
- Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
- Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?
- Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman)?
Mabel Lewis Sabakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005). Menurut Musa Asy’anie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodilc untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.
Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang flisafat yang mempelajani dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan Iingkup pengetahuan, dasar dan pengendaliannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. ) Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya.
Para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di dalam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat mi sebab rnereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahannya, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam. Mereka mengandaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyallian dapat lebib dimunculkan dan sumber- sumber tertentu ketimbang sumber-sumber Iainnya. Herakleitus, rnisalnya, menekankan penggunaan indera, sementara Permanides menekankan penggunaan akal. Meskipun demikian, tak seorang pun di antara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (realitas).
Baru pada abad ke-5 SM, muncul keraguan terhadap adanya kemungkinan itu, mereka yang meragukan akan kemampuan manusia mengetahui realitas adalah kaum sophis. Para sophis bertanya, seberapa jauh pengetahuan kita mengenai kodrat benar-benar merupakan kenyataan objektif, seberapa jauh pula merupakan sumbangan subjektif manusia? Apakah kita mempunyai pengetahuan mengenai kodrat sebagaimana adanya? Sikap skeptis inilah yang mengawali munculnya epistemologi.
Filsafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode induksi dan sistematisasi prosedur ilmiah menurut Russel, dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan inilah. Bacon mengritik uilsafat Yunani yang menurutnya Iebih menekankan perenungan dan akibatnya tidak mempunyai praktis bagi kehidupan manusia.
Ia menyatakan, “The great mistake of Greek philosophers was that they spent so much time in theory, so little in observation.” Karetia itu, usaha yang Ia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik)” Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersedniri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah :
- Metode induktif
- Metode deduktif
- Metode Positivisme
- Metode Kontemplatif
- Metode dialektis
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga pengertiannlya menjadi rancu bahkan kabur Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran, sedang tujuan hampir sama dengan harapan.
Meskipun berbeda, tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambuflgin, sebab objekiab yang mengantarkan tercapainya tujuan. Dengan kata lain, tujuan barn dapat diperoleh, jika telah melalui objek lebih dulu. Misalnya, seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan, ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. Jadi, tujuannya adalah pembunuhan, sedangkan objeknya adalah kepalanya.
Oleb karena itu, pembunuhan sebagai tujuan polisi barn mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran, tetapi terjadinya pembunuhan tidak banya melalui menembak kepala perampok, bisa juga dadanya atau perutnya. Tm berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebib dari satu. Sebaliknya, mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satutetapi tijuannyabanyak.
Dewasa ini, justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir, perekayasa, dan juga pengusaha. Artinya, ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. Kecenderungan mi justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis, mendorong kreativitas seseorang. Aktivits berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak- banyaknya, sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak- banyaknya.
Hal mi merupakan implikasi dan tekanan masing- masing pola berpikir tersebut. Secara global, baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua, tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan peniikirnya.
Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal.
Objek material adalah sarwa- yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alarn dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada). Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetabuan yang pertama kali digagas oleh Plato nii memiliki objek tertentu.
Objek epistemologi mi menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang hams dilalui dalam mewujudkan tujuan.
Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Selanjutnya, apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”.
Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dan tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yalta ingin memiliki notensi untuk memperoleh penetahuan. Objek Pengetahuan Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal.
Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebu, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki objek material dan objek formal.
Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika.
Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu
- yang ada dalam alam empiris,
- yang ada dalam pikiran, dan
- yang ada dalam kemungkinan.
Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang nonempiris. Objek ilrnu terkait dengan filsafat pada objek empiris.
Di samping itu, secara historis ilmu berasal dan kajian filsafat karena awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada ini secara sistematis, rasional, dan logis, termasuk hal yang .empiris. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakin bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah proses terbentuknya ilmu secara berkesinambungan. Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsàfat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, menyeluruh, dan rasional.
Begitu jug sifat pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutntya rnerupakan bagian dan ilmu karenanya ilmu dilihat pada posisi yang tidak mutlak, sehingga masih ada ruang untuk bepekuklasi demi pengembangan ilmu itu sendiri. Istilah epistimolgi pertama kali dipakai oleh I.F Farver pada abad ke – 19 di intitud of metaphisks (1854).
Epistemologi didefenisikan sebagai cabang filsfat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan praanggapan dan dasar- dasarnya serta realitas umum dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. Epistemology ini adalah nama lain dari logika material atau logika mayor yang membahas dari isi pikiran manusia yakni pengetahuan. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja.
Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemologi. Telaah epistemologi terhadap “kebenaran” membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran, yaltu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis.
Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. Namun, dalam pembahasan ini dibahas kebenaran epistemologis karena kebenaran yang lainnya secana inheren akan masuk dalam kategori kebenaran epistemologis.
Teori yang menjelaskan kebenaran epistemologis adalah sebagai berikut:
- Teori Korespondensi Teori pertama adalah teori korespondensi, the correspondence theory of truth yang kadang disebut the accordance theory of truth. Menurut teori mi, kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian (correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut.52Dengan demikian, kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intrinsik, intensional, dan pasif-aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa yang ada di dalam objek.
.
Hal itu karena puncak dan proses kognitif manusia terdapat di dalam budi atau pikiran manusia (intelectus), maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek. Teori korespondensi mi pada umumnya dianut oleh para pengikut realisme. Di antara pelopor teori korespondensi mi adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski.54 Teori mi dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-197O).
.
Seseorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa: keadaan benar mi terletak dalam kesesuaian antara “esensi atau arti yang kita berikan” dengan “esensi yang terdapat di dalam objeknya” Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah realitas itu objektif atau subjektif? Dalam hal ini ada dua pandangan realisme epistemologis dan idealisme epistemologis. Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independen (tidak tergantung), yang terlepas dan pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahaminya.
.
Itulah sebabnya realisme epistemologis kadangkala disebut objektivisme. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau objektivitisme berpegang kepada kemandirian kenyataan, tidak tergantung pada yang di luarnya. Sedangkan idealisme epistemologis berpandangan bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subjektif
. - Teori Koherensi Tentang Kebenaran Teori yang kedua adalah teori koherensi atau konsistensi, the consistence theory of truth, yang sering pula dinamakan the coherence theory of truth. Menurut teori mi kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain, yaltu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan perkataan lain, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara puiusan yang baru itu dengai putusán-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui kebenarannya terlebih dahulu.
.
Jadi menurut teori mi, putusan yang satu dengan yang Iainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain.Karenanya lahirlah rumusan: Truth is a systematic coherence kebenaran adalah saling hubungan yang sistematis; Truth is consistency kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan. Apabila teori korespondensi dianut oleh penganut realisme dan materialisme, teori konsistensi atau koherensi mi berkembang pada abad ke-19 dibawah pengaruh Hegel dan diikuti oleh pengikut mazhab idealisme.
.
Seperti filsuf Britania F. M Bradley (18641924).61) Idealisme epistemologi berpandangan bahwa objek pengetahuan, atau kualitas yang kita serap dengan indera kita itu tidaklah berwujud terlepas dan kesadaran tentang objek tersebut. Itulah sebabnya teori ini sering disebut subjektivisme.
.
Kedua, teori ini agaknya dapat dinamakan teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksianpenyaksian (justifikasi, pembenaran) oleh putusan-putusan Iainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima, dan diakui benarnya.
. - Teori Pragmatisme Tentang Kebenaran Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pramagtic (pramagtist) theory of truth. Pramagtisme berasal dan bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan, sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James di Amerika Serikat. Menurut filsafat ml benar tidaknya suatu ucapan, dali!, atau teori semata mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat.
.
Menurut teori pragmatisme, suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktik, apabila Ia mempunyat nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunaannya, oleh hasilnya, dan oleh akibat- akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku.
. - Agama Sebagai Teori Kebenaran Manusia ada!ah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia, dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dan Tuhan.
ALMA SAFITRI (20188500017)
1A-POR
Minggu, 30 September 2018
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
v Apa itu
Filsafat Ilmu?
Filsafat
ilmu adalah
bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat,
asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara
lain ilmu alam dan ilmusosial. Di sini, filsafat
ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi
Menurut
Para Ahli :
A.
Lewis White Beck , Filsafat Ilmu membahas
dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan
pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan
B.
Peter Caws , Filsafat ilmu merupakan suatu
bagian filsafat yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya
melakukan pada seluruh pengalaman manusia.
1.
Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dasar
dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa
Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata
science itu sendiri memang bukan bahasa Asli Inggris, tetapi merupakan serapan
dari bahasa Latin, Scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang
menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan.
Scientia bersumber dari bahasa Latin Scire yang artinya mengetahui.1 Terlepas
dari berbagai perbedaan asal kata, tetapi jika benar ilmu disejajarkan dengan
kata science dalam bahasa Inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan.
Pengetahuan yang dipakai dalam bahasa Indonesia, kata dasarnya adalah “tahu”.2
Secara umum pengertian dari kata “tahu”
2.
Pengertian Filsafat
Filsafat berasal
dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata,
philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos
berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan
hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila
seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang
cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
3. Hubungan
Antara Ilmu Dan Filsafat
Berbagai pengertian tentang filsafat dan ilmu sebagaimana
telah dijelaskan di atas, maka berikutnya akan tergambar pula. Pola relasi
(hubungan) antara ilmu dan filsafat. Pola relasi ini dapat berbentuk persamaan
antara ilmu dan filsafat, dapat juga perbedaan di antara keduanya.
Di zaman Plato, bahkan sampai masa al Kindi, batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh disebut tidak ada. Seorang filosof pasti menguasi semua ilmu. Tetapi perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praksis, berujung pada loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat. Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam perkembangan berikut, perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung dengan kecanggihan teknologi, telah mengalahkan perkembangan filsafat. Wilayah kajian filsafat bahkan seolah lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang relevan dikembangkan ole manusia. Sebab manusia hari ini mementingkan ilmu yang sifatnya praktis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit “dibumikan”. Tetapi masalahnya betulkah demikian?
Ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen.13 Keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen sendiri, dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung Spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteoritisasi.14 Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran, sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang koprehensif, yakni; yang luas, yang umum dan yang universal (menyeluruh) dan itu tidak dapat diperoleh dalam ilmu.
Di zaman Plato, bahkan sampai masa al Kindi, batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh disebut tidak ada. Seorang filosof pasti menguasi semua ilmu. Tetapi perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praksis, berujung pada loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat. Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam perkembangan berikut, perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung dengan kecanggihan teknologi, telah mengalahkan perkembangan filsafat. Wilayah kajian filsafat bahkan seolah lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang relevan dikembangkan ole manusia. Sebab manusia hari ini mementingkan ilmu yang sifatnya praktis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit “dibumikan”. Tetapi masalahnya betulkah demikian?
Ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen.13 Keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen sendiri, dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung Spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteoritisasi.14 Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran, sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang koprehensif, yakni; yang luas, yang umum dan yang universal (menyeluruh) dan itu tidak dapat diperoleh dalam ilmu.
-Alma Safitri (20188500017)
1A- POR
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PENGERTIAN A. FAKTA i. Menurut WIKIPEDIA Fakta ( bahasa Latin : factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap o...
-
KOHERENSI Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsisten. Suatu pernyataan dian...
-
A. PENGERTIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR ...
MANAJEMEN KEGIATAN OLAHRAGA/SENI
A. PENGERTIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN JASMANI/OR ...